Simulasi Negara Maju di Warung Kopi

Simulasi Negara Maju di Warung Kopi

Sebuah komedi satir tentang ketimpangan negeri

Simulasi Negara Maju di Warung Kopi
Syarifudin brutu

Feb 3, 2026

Pak Kades baru saja pulang dari studi banding di luar negeri dengan semangat membara. "Kita harus modern!" serunya sambil menggebrak meja kayu warung Mpok Minah yang sudah reyot.

​"Lihat ini," Pak Kades memamerkan tablet terbaru. "Pemerintah bilang kita sudah masuk jajaran negara maju. Ekonomi meroket, angka statistik melambung tinggi, dan investasi masuk triliunan!"

​Mpok Minah yang sedang menuangkan kopi saset harga seribuan hanya bengong. "Maju gimana, Pak? Itu harga beras di pasar sudah kayak harga saham Apple, naik terus nggak mau turun. Bedanya, kalau saham bikin kaya, kalau beras bikin saya puasa Senin-Kamis tanpa niat ibadah."

​"Ah, kamu mah pesimis, Minah," potong Pak Kades sambil membetulkan kacamatanya. "Secara makro, daya beli kita itu stabil. Lihat itu di Jakarta, gedung-gedung tinggi, mobil listrik di mana-mana. Itu tandanya rakyat makmur!"

​Dul, seorang pengangguran intelektual yang sedang mencari Wi-Fi gratis, menyahut, "Pak, gedung tinggi itu kan isinya kantor. Masalahnya, kami yang di bawah ini cuma kebagian bayangannya doang. Ademnya dapet, duitnya kagak. Bapak bilang negara maju, tapi mau berobat aja saya harus kumpulin fotokopi KTP sampai setinggi Monas."

​"Betul itu!" timpal Pak RT yang baru datang. "Negara maju itu katanya serba digital. Sekarang bikin KTP digital, bayar pajak digital, semua aplikasi. Tapi pas saya mau beli minyak goreng murah, kok masih disuruh antre pakai kupon kertas yang lecek? Mana digitalnya? Itu mah 'Digit-all'—artinya duit kita didigit-digit sampai ludes."

​Pak Kades terdiam sebentar, lalu tersenyum bijak. "Ya itu namanya proses transisi. Kita harus bangga, kita sudah sejajar dengan negara besar. Kita punya kereta cepat!"

​"Kereta cepat emang bagus, Pak," balas Dul kalem. "Tapi masalahnya, kecepatan kereta itu nggak sebanding sama kecepatan hilangnya saldo di rekening saya setiap tanggal muda. Negara maju itu harusnya rakyatnya nggak pusing besok makan apa, bukan pusing besok liat pengumuman pajak apa lagi yang naik."

​Mpok Minah menyodorkan segelas kopi hitam ke Pak Kades. "Ini kopinya, Pak. Lima ribu rupiah."

​Pak Kades meraba kantongnya. "Waduh, dompet saya ketinggalan di mobil dinas. Boleh scan QRIS nggak?"

​Mpok Minah menunjuk sebuah kertas di tembok: "TIDAK MENERIMA QRIS, LAGI GANGGUAN SINYAL. KHUSUS TUNAI ATAU GADAI KTP."

​"Nah," kata Mpok Minah sambil nyengir. "Selamat datang di negara maju, Pak. Maju kena, mundur kena, diam pun kena pajak."

​Pak Kades akhirnya pulang dengan perut kembung kopi, menyadari bahwa statistik di tabletnya memang terlihat cantik, tapi sayangnya tidak bisa dimakan pakai sambal terasi.

Subscribe to "Aksaraarunika" to get updates straight to your inbox

Syarifudin brutu

Subscribe to Syarifudin brutu to react

Subscribe